“Digitalisasi harus mempercepat penyelesaian persoalan konsumen, bukan hanya memindahkan antrean dari kantor pelayanan ke aplikasi, sehingga setiap laporan harus memiliki kepastian waktu, status penanganan yang jelas, dan hasil yang dapat dievaluasi,” ujarnya.
PLN juga tercatat membukukan laba bersih Rp7,26 triliun meskipun menghadapi tekanan rugi selisih kurs sebesar Rp12,46 triliun akibat volatilitas nilai tukar global.
Baca Juga:
Pemberdayaan Energi, ALPERKLINAS: BUMN Perlu Tiru BRI Peduli Berikan CSR PLTS pada Masyarakat
Tohom memandang kemampuan PLN mempertahankan laba di tengah tekanan tersebut menunjukkan fondasi perusahaan tetap terjaga.
"Tetapi efisiensi operasional harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengurangi investasi untuk pemeliharaan jaringan dan kualitas pelayanan pelanggan," katanya.
Dia juga mendorong PLN memperluas program elektrifikasi hingga wilayah terpencil dengan tetap memperhatikan kemampuan ekonomi masyarakat, keselamatan instalasi, kualitas jaringan, dan keberlanjutan pasokan listrik.
Baca Juga:
Target PLTS 100 GW Dinilai Realistis, ALPERKLINAS: Penguatan Sistem PLN Jadi Kunci Keberhasilan
“Pendapatan yang meningkat harus menjadi energi baru bagi PLN untuk membangun kepercayaan publik melalui pelayanan yang konsisten, perlindungan konsumen yang kuat, pasokan yang andal, dan komunikasi yang jujur ketika terjadi gangguan,” pungkasnya.
[Redaktur: Sandy]