Alperklinas.WahanaNews.co | Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan berdampak pada keuangan PT PLN (Persero).
"Penguatan dolar pasti berdampak pada profit and loss PLN karena beberapa pinjaman kami dalam bentuk valuta asing," ungkap Direktur Distribusi PLN Adi Priyanto di Gedung Kementerian BUMN, Kamis (29/9).
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Komitmen Pemerintah Dukung Energi Terbarukan dengan Beri Waktu 30 Tahun Perjanjian Jual Beli Listrik EBT ke PLN
Namun, Adi mengklaim kinerja keuangan akan terkendali jika rupiah hanya jatuh ke sekitar Rp15 ribu per dolar AS.
"Tadi pagi diskusi dengan direktur keuangan, kami masih bisa mengendalikan dengan baik. Kalau (rupiah) sekitar Rp15 ribu, itu kami masih terkendali," tutur Adi.
Nilai tukar rupiah tembus Rp15.270 per dolar AS pukul 14.30 WIB pada Kamis (29/9). Hari ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp15.212 hingga Rp15.276 per dolar AS.
Baca Juga:
Tarif Listrik April 2025 Tidak Naik, Ini Alasannya!
Senior Analis DCFX Lukman Leong menilai rupiah semakin lesu karena The Fed kembali memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga acuan tahun depan.
Ketika The Fed mengerek suku bunga acuan, maka dolar AS otomatis semakin perkasa. Hal itu akan membuat sebagian besar mata uang termasuk rupiah melemah.
"Gubernur The Fed Minneapolis Neel Kashkari menghendaki kenaikan suku bunga acuan lebih banyak untuk melawan inflasi. Hal ini menyebabkan sentimen risk off pada investor," tutup Lukman. [tum]